Masa Depan Suram

October 23rd, 2008

Kiai Kaya-raya Nikahi Anak Umur 12 Tahun

Posted by sebuahkapal in Uncategorized

Kiai kaya  raya pemilik Ponpes Miftakhul Jannah di Semarang, Pujiono Cahyo Widianto (43) atau Syekh Puji menikahi gadis berusia 12 tahun.Gadis itu bernama Lutfiana Ulfa itu baru beberapa pekan duduk di kelas satu SMP atau baru lulus SD.

Tinjauan dari sisi Agama Islam, sah sah saja. Pak Kiai menjalankan sunnah Rosul 100%. Beliau memegang hukum yang tertinggi adalah hukumnya Allah (Syariat Islam).  Bukankah Nikah siri memang diperbolehkan dan sah secara agama dengan tujuan untuk menjaga diri dari perbuatan dosa. Jadi tidak perlu mempermasalahkan soal hukumnya boleh atau tidak karena itu sudah pasti boleh (menurut agama Islam).

Anak yang dinikahi pun setuju dan senang, orang tua sebagai pemilik sah anak yang dinikahi setuju dan senang. Terus apa yang salah dari pernikahan itu?

Dari kaca mata sang kiai tentu tak ada yang salah.

Bagaimana pendapat bung ?

Hehhehehehe…..

Asu tenan…….

October 21st, 2008

Tawuran Mahasiswa, Gejala Gagalnya Kurikulum Pendidikan ?

Posted by sebuahkapal in Uncategorized

Kampungan memang, intelektual muda itu saling melempar batu dan berucap sumpah serapah. Satu pihak mengejar, lainnya lari pontang-panting.

Melihat para jagoan saling menyerang, sedikit mendapat hiburan, tontonan gratis, dan bisa menjadi sumber berita buat wartawan, sayangnya berita memalukan.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa mahasiswa yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan mempunyai tatanan kehidupan yang disebut masyarakat ilmiah cenderung memilih cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

1. Budaya tawuran dibawa dari SMA dipraktekkan di dunia kampus. Seperti kita ketahui, tawuran merambah dunia SMA tahun 90-an. Pola primitif SMA masih tidak hilang walaupun sudah duduk di bangku kuliah. Boleh dikatakan, wujudnya mahasiswa tapi mentalnya SMA.
2. Di sekitarnya para mahasiswa sering mendengar dan melihat  penggunakan cara-cara kekerasan dalam usaha menyelesaikan masalah. Mulai dari gedung DPR, preman sampai pembela agama seperti FPI.
3. Tidak ada, jika ada pun sedikit, ajang-ajang yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa antar kampus, jalinan antar mahasiswa beda universitas sangat renggang.

4. Budaya hedonisme yang berkembang, hura-hura dan senang.

5. Tidak tumbuhnya budaya penelitian dan pengembangan karakter di dunia kampus. Tidak ada kebanggan yang bisa dinilai secara akademis. Yang ada ada ada kebanggan otot.

6. Praktek belajar mahasiswa yang mekanis. Datang, duduk, diam di bangku kuliah. Hanya mengejar kelulusan, syukur dapat nilai tinggi, supaya mudah diterima di dunia kerja. Aspek humaniora dan dialektika dalam mengejar ilmu diabaikan. Ditunjang kurikulum yang kaku, yang berorientasi kapital.
7. Runtuhnya organisasi mahasiswa yang mampu melatih dan mengasah kemampuan bermasyarakat.
8. Narkoba telah sedemikian dalam masuk dalam linkungan kampus. Segala hal negatif yang dibawa narkoba pun ikut menyertainya.
9. Yang ada adalah macan-macan kampus, tapi bermental dekil. Bergaya jagoan tapi meyelesaikan perkara secara primitif. Menjadikan kampus bukan tempat belajar, tapi untuk duduk-duduk manis sambil menunjukkan kalau dirinya hebat. Tidak ada yang dibanggakan lagi selain menundukan musuh. Hal yang sepele pun dijadikan sarana untuk menyerang.

Mahasiswa yang dianggap sebagai kaum intelektual saja sudah tidak mampu menjaga intelektualitasnya dalam menghadapi masalah, apalagi dengan masyarakat awam?

October 21st, 2008

Daging Sapi Gelonggongan

Posted by sebuahkapal in Uncategorized

Penipuan Publik untuk Mengejar Keuntungan Besar tanpa Etika

Baru-baru ini marak diberitakan tentang daging sapi gelonggongan.

Praktik daging sapi gelonggongan adalah meningkatkan berat seekor sapi dengan cara penambahan kadar air ke jaringan daging sapi.
Untuk meningkatkan kadar air pada daging sapi, sapi yang akan disembelih dengan cara paksa diberi air sebanyak-banyaknya. Pada umumnya melalui mulut dengan menggunakan pompa air, agar mempunyai tekanan yang disalurkan dengan menggunakan selang. Konon ada yang memasukkan air dari mulut dan anus. Setelah diberi air sebanyak-banyaknya, ditunggu sampai sekitar 6 jam agar distribusi air dalam tubuh merata, baru sapi tersebut disembelih. Ketika sapi disembelih, apakah masih hidup, mungkin sudah sekarat, atau bahkan mati.

Tujuan dibuat daging sapi gelonggongan adalah untuk mendapatkan daging sapi yang sudah bertambah beratnya secara paksa dengan harapan dapat dijual dengan keuntungan lebih besar dari pada tanpa digelonggong.

Jelas konsumen rugi. Dari sisi kesehatan, air yang dimasukkan ke sapi tidak terjamin kesterilannya, setelah bercampur dengan daging sapi, air bisa menjadi media masuknya bibit penyakit ke manusia. Yang kedua, sapi yang tidak tahan digelonggong dan mati, tentu oelh pelaku tidak dibuang bukan ? Dalam keadaan mati tetap disembelih dan dagingnya disalurkan ke konsumen, alhasil konsumen membeli bangkai. Konsumen juga tertipu, karena membeli daging yang beratnya telah direkayasa.

Apakah secara hukum pembuatan daging sapi gelonggongan dianggap legal?

Pasal penipuan terhadap publik (konsumen) bisa menjerat pelaku. Dan tentu saja  memasukkan selang ke dalam mulut sapi dan memompanya secara paksa adalah tindakan yang benar-benar biadap.

Setelah kita mendengar tentang pratek pengawetan ikan dan hasil laut dengan formalin, pengawetan bakso dengan boraq, pengunaan zat warna tektil untuk makanan anak-anak, pencucian udang dengan pemutih, kita tidak terkejut mendengar tentang perbuatan sapi gelonggongan.

Kenapa praktek seperti ini ada di tengah-tengah kita. Kenapa kita seolah-olah menerimanya dan membenarkannya. Apakah sudah tidak ada cara mendapatkan keuntungan dengan cara yang terhormat. Apakah untuk tetap hidup harus dengan memanipulasi dagangan.

Kupang 21 Oktober 2008

April 27th, 2007

Hari Bumi 22 April

Posted by sebuahkapal in Uncategorized

Hari Bumi 22 April

Bung, John F Kennedy terkenal terkenal dengan kata-kata bijaknya, "Jangan bertanya apa yang telah negara berikan kepadamu, tanya lah apa yang kamu berikan pada negerimu".
Bung, jangan bertanya kenapa tanggal 22 April disebut hari bumi, tanyalah apa yang telah bung berikan pada bumi ini….hehehehhe

Bung pernah bertanya, kira-kira apa keadaan negeri Indonesia pada tahun 2050.
Masih lama bung, kenapa dipikirkan.
Ok lah bung.
Saya pada tahun 2002 pernah baca artikel majalah national geography bahwa pada 2050 air laut naik 50-70 cm dibanding saat artikel dibuat. Suhu rata-rata terus naik. Hutan makin berkurang, sea food habis dan gambaran-gambaran seram lainnya.
Jadi bung, kota Semarang sebagian akan tenggelam. Juga kota-kota pesisir lain. Kesulitan air bersih terjadi dimana-mana.

Bung, gambaran menakutkan lagi adalah jumlah penduduk. Bung tahu, pemerintahan Indonesia pasca Soeharto gagal dalam melanjutkan program KB. Ingat bung, di Yogya pernah diusulkan ATM kondom. Tapi mereka yang berbudi pekerti dan berbudaya timur menolak. Akses informasi dan alat-alat kontrasepsi susah. Berbeda dengan zaman Soeharto, penyuluh KB dimana-mana.

Bulan Februari lalu terjadi perdebatan estimasi jumlah jiwa di suatu desa daratan Riau yang terdiri dari 1300 kk. Kira-kira kalikan 4 saja, demikian ada berkata. Setelah didata dengan teliti, ternyata jumlah jiwa 7000 lebih. Jadi dalam 1 kk rata-rata ada 5-6 jiwa. Gambaran ini menunjukkan bahwa penduduk-penduduk desa masih menghasilkan banyak anak.

Diperkirakan pada tahun 2050 jumlah penduduk Indonesia akan 353 juta. Lahan pertanian di desa habis dan kekurangan air, urbanisasi meningkat, alhasil,  2/3 hidup penduduk memadati perkotaan yang infrastrukturnya belum siap. Kota penuh dengan pengangguran. Ditutupnya komplek-komplek pelacuran oleh mereka yang berakhlak tinggi, membuat pelacur menyebar di lorong-lorong, losmen dan hotel, penyakit menular seksual mewabah, sulit dikontrol.

Bahan bakar fosil makin tipis, aliran listrik lebih banyak padamnya, pesawat tv jarang menyala, hiburan satu-satunya adalah membuat anak.

Gang-gang sempit di kota. Kubangan hitam di sana-sini, udara kotor, susah makan  dan narkoba membuat anak-anak tidak sehat dan berkurang tingkat kecerdasannya. Dengan tingkat konsumenisme yang tinggi dan kegilaan pada produk-produk jadi, membuat Indonesia makin decengkeram aturan perusahaan asing. Hutang menggila.
Bung…..
Mengerikan bukan
Tapi jangan ikut pesimis. Itu hanya gambaran dalam otak saya saja.
Semoga tidak terjadi sungguh-sungguh.

April 27th, 2007

Apakah orang-orang PKI tidak beragama?

Posted by sebuahkapal in Uncategorized

Bung, apakah orang-orang PKI tidak beragama?

Sepangetahuan saya, PKI muncul dalam organisasi keagamaan. Syarekat Islam. Awal abad 20, di Semarang  beberapa anak muda anggota SI prihatin melihat nasip pribumi Hindia Timur dan merasa perlu memperjuangkannya. SI yang berada dalam garis keagamaan diarahkan anak-anak muda ini ke arah pergerakan yang lebih nyata, memperjuankan nasif orang. Konon anak-anak muda ini terkesan pidato seorang Belanda saat membela seorang buruh dalam pengadilan lokal. Orang Belanda ini adalah anggota ISDV.
Di kemudian hari anak-anak muda ini dalam organisasi SI cabang Semarang membentuk faksi merah. Dan SI merah inilah cikal bakal orgasasi partai komunis Indonesia (PKI).
Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa orang-orang PKI yang baru terbentukadalah pemeluk agama Islam.
Seorang haji di Surakarta, anggota PKI, memakai ayat-ayat Alquran untuk kampanyenya.

Tentu Bung akan mengambil kesimpulan PKI adalah komunis gadungan?
Bukankah komunis berdasarkan hukum materialis. bahwa ide-ide termasuk agama adalah cerminan material. Bahwa yang boleh dipercaya adalah sesuatu yang bisa dibuktikan secara empiris.

Kenyataan memang demikian bung. Ajaran komunis masuk nusantara telah menyesuakan dengan lingkungannya yang baru.

Pada tahun 1926 PKI, setelah melalui tekanan-tekanan yang mencekam, memulai pemberontakan. Alhasil,bukannya "perjuangan kelas" ini berhasil, PKI malah dibubarkan, tokoh-tokoh utamnya dibuang ke Digul.

Paska perang dunia ke 2, anak-anak muda beraliran kiri banyak terlibat dalam proklamasi kemerdekaan dan perjuangan mempertahankannya. Frustasi dan kekecewaan timbul saat kaum kiri ini tersingkir secara pelan-pelan dari panggung kekuasaan. Petualangan PKI di madiun 1948 adalah puncak frustasi ini.

Paska peristiwa Madium PKI makin berhati-hati dan belajar bagaimana hidup di lingkungan politik dan beragama Indonesia. Bahkan secara organisasi PKI mencamtumkan Pancasila yang "berkeTuhannan yang maha Esa" sebagai dasar.
Bung tahu, jutaan anggota PKI pada tahun 50-an kebanyakan tidak faham "materialme dialektika". Mereka hanya tahu, PKI paling gigih dalam memperjuangkan land reform. Di sini bisa dikatakan jutaan anggota PKI, seperti kebanyakan orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang beragama.

Kehadiran PKI di bumi nusantara berhenti pada peristiwa G30S.
Bung, saya menyakini PKI terlibat dan menjadi pemain kunci dalam petualangan mengerikan ini. Bukankah Sudisman, seorang bekas tokoh PKI membenarkan keterlibatan ini. Tapi saya tidak setuju  pembantaian pada orang-orang yang dianggap anggota PKI. Apalagi dengan pembenaran, mereka adalah orang-orang tidak beragama, tidak berTuhan.

Salam dari perantauan

nb: Apakah PKI komunis?

April 27th, 2007

Seandainya boleh memilih agama.

Posted by sebuahkapal in Uncategorized

Seandainya boleh memilih, saya memilih tidak beragama. Tapi di negara tercinta Indonesia, harus memeluk salah satu agama, saya memilih agama budha.
Karena dalam agama budha, tidak dogmatis, dirinya benar lainya salah, tidak mengancam dengan hukuman, tidak mengiming-imingi sorga, boleh dibantah, berpulang pada diri sendiri.

Saya percaya pada hal hal buruk di masa depan bila saat ini melakukan hal-hal yang jahat. Dalam hal ini saya tidak percaya karma.

April 27th, 2007

Bung, siapa pembunuh Munir?

Posted by sebuahkapal in Uncategorized

Sudah tiga tahun aktivis HAM, Munir meninggal. Kematiannya masih menjadi misteri.
POLRI saat ini sedang kerja keras mengungkap misteri itu.
Bung tahu, POLRI mempunyai kesimpulan, penyebab kematian munir adalah racun arsenik. Munir diracun.
Tentu kesimpulan ini bukan tanpa dasar dan bukti yang kuat bung.
Semua orang saat ini menunggu, siapa orang yang memasukkan racun ke tubuh munir.

Bung tentu ingat bukan, bagaimana Paduka Yang Mulia, Sri Suhunan Amangkurat, Senopati Ing Alaga Kemaharajaan Mataram memerintahkan orang untuk meracun seorang dalang dan merebut istri sang dalang. Kelak istri sang dalang disebut Ratu  Malang, yang makamnya di sebuah bukit dekat Segarayasa. Episone Ratu Malang adalah tragedi. Kisahnya telah menorehkan banyak tinda dan menitikan banyak air mata.

Langkah sang maharaja begitu rapi bung.  Cerita yang beredar sang dalang meninggal karena sakit. Entah memang tidak tahu peracunan ini, rakyat Mataram sepakat mengamini langkah raja.

Bung, tentu di zaman digital ini, kematian mencurigakan akan diselidiki polisi. Penyebabnya akan diketahui dengan pasti. Dan seorang amangkurat pun akan dijerat pasal demi pasal kitab undang-undang, bila memang bersalah.

Lain Mataram, lain Indonesia. Mataram masih mengandalkan tawanan-tawanan portugis dalam membuat senjata api yang masih sederhana. Indonesia telah mampu kumbang besi F 16 dari negeri om sam dalam mempertahan kedigdayaanya.

Bung, benarkah era Windows vista mulai merambah dunia, racun masih digunakan dalam menyingkirkan orang ala amangkurat.

Kalau bung bertanya pada saya, siapa yang meracun Munir, saya akan menyelidiki dari motifasi pembunuhan bung. Ada apa dengan Munir sehingga perlu disingkirkan. Siapa orang orang yang kepentingannya terancam bila Masih hidup.

Bung juga jangan lupa, dimata bandit, tokoh anak muda dalam suatu film adalah bandit juga. Artinya orang orang dibelakang pembunuhan munir saat merasa benar dalam tugasnya menyingkirkan "pengkianat" negara tercinta indonesia. Jadi kita juga harus mencari pihak yang mempunyai motifasi "penyelamat negara" ini.

Satu hal lagi bung, bisa juga pembunuh Munir adalah orang-orang yang merasa "ikannya" dicuri Munir bila tetap hidup.

Bisa-bisa bung, munir mati karena bunuh diri, atau si pembunuh munir kalangan keluarga sendiri. Mungkin saja kan bung. Apa sih bung yang tidak mungkin di dunia ini. Tapi kembali ke motifasi, kita bisa menilai kadarnya. Diantara kemungkinan-kemungkian tadi , mana yang paling mungkin.

Dari motifasi kita menuju ke metode dan proses. Dari perencanaan, pelaksanaan dan penghilangan jejak, pembunuh Munir bisa ditakar powernya. Siapa sih yang bisa mengatur jadwal orang-orang PT Garuda Indonesia.

Dari metode da proses kita mencari bukti bung. Bukti sekecil-kecilnya pun bisa kita jadikan pijakan asal kuat. Kalaupun sulit, jadikan sebagai dasar pembuktian terbalik.

Sebagai contoh, pembicaraan telepon. Ada berpuluh-puluh pembicaraan telepon antara oknum pejabat dengan oknum garuda, oknum pejabat menyangkal dirinya berhubungan dengan oknum garuda. Tolong dong, dari berpuluh-puluh sambungan tadi, oknum pejabat dan oknum garuda membuktikan bahwa hubungan telepon itu bukan mereka yang bikin.

Jika memang mereka, pembicaraan apa yang menjadikan perlu bertelepon berpuluh-puluh kali. janjian ketemu di warung kopi, warung kopi mana, siapa yang menyaksikan mereka berada di warung kopi. Pokoknya dikejar terus bung. Karena bukti memang sedikit.

Itu contoh saja kok bung.

Jangan sampai pembunuh munir ketemu samapai operatornya saja. Si pemberi order adalah tugas utama polisi menemukannnya. Bukan cuma polisi, PT Telkom misalnya, tempat lalu litas pembicaraan telepon bisa membantu polisi, juga kita semua, yang merasa hidup bukan di zaman amangkurat lagi.

Salam dari perantauan.

July 16th, 2006

Causa Prima

Posted by sebuahkapal in Religion

aku benci tuhan ‘yang maha segalanya’
aku benci agama yang memanifestasikan keberadaannya
kenapa dia musti mengkorup semua hal yang baik
dan menyisakan yang selebihnya kepada iblis

bukankah mencabut nyawa manusia juga bukan hal baik?
tapi kenapa tidak ada sebutan "yang maha kejam"
untuk-nya?
kenapa dia harus menciptakan standar nilai moral
universal,
tanpa memberi kebebasan bagi makhluknya untuk mencari
kebenarannya sendiri?

ah, "rahasia tuhan" itu cuma pembenaran para pemuja
kebenaran tunggal saja

aku tidak ingin selamanya hidup dalam ketakutan untuk
tunduk kepadanya
aku tak peduli akan keberadaannya, aku bukan orang
hebat
aku tidak ingin mendasarkan hidupku pada "reward" dan
"punishment"-nya
aku hanya percaya kalau aku tidak peduli

aku adalah…
tuhan bagi diriku sendiri…
yang bermimpi
menjadi seorang manusia
seandainya saja ia tahu bagaimana rasanya…

April 27th, 2005

Darah juang

Posted by sebuahkapal in Uncategorized

Di sini negri kami
tempat padi terhampar
samuderanya kaya raya
negeri kami subur
Tuhan

di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak kurus tak sekolah
pemuda desa tak kerja

mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar
bunda relakan darah juang kami
untuk membebaskan rakyat

padamu kami berjanji