Masa Depan Suram

October 21st, 2008

Daging Sapi Gelonggongan

Posted by sebuahkapal in Uncategorized

Penipuan Publik untuk Mengejar Keuntungan Besar tanpa Etika

Baru-baru ini marak diberitakan tentang daging sapi gelonggongan.

Praktik daging sapi gelonggongan adalah meningkatkan berat seekor sapi dengan cara penambahan kadar air ke jaringan daging sapi.
Untuk meningkatkan kadar air pada daging sapi, sapi yang akan disembelih dengan cara paksa diberi air sebanyak-banyaknya. Pada umumnya melalui mulut dengan menggunakan pompa air, agar mempunyai tekanan yang disalurkan dengan menggunakan selang. Konon ada yang memasukkan air dari mulut dan anus. Setelah diberi air sebanyak-banyaknya, ditunggu sampai sekitar 6 jam agar distribusi air dalam tubuh merata, baru sapi tersebut disembelih. Ketika sapi disembelih, apakah masih hidup, mungkin sudah sekarat, atau bahkan mati.

Tujuan dibuat daging sapi gelonggongan adalah untuk mendapatkan daging sapi yang sudah bertambah beratnya secara paksa dengan harapan dapat dijual dengan keuntungan lebih besar dari pada tanpa digelonggong.

Jelas konsumen rugi. Dari sisi kesehatan, air yang dimasukkan ke sapi tidak terjamin kesterilannya, setelah bercampur dengan daging sapi, air bisa menjadi media masuknya bibit penyakit ke manusia. Yang kedua, sapi yang tidak tahan digelonggong dan mati, tentu oelh pelaku tidak dibuang bukan ? Dalam keadaan mati tetap disembelih dan dagingnya disalurkan ke konsumen, alhasil konsumen membeli bangkai. Konsumen juga tertipu, karena membeli daging yang beratnya telah direkayasa.

Apakah secara hukum pembuatan daging sapi gelonggongan dianggap legal?

Pasal penipuan terhadap publik (konsumen) bisa menjerat pelaku. Dan tentu saja  memasukkan selang ke dalam mulut sapi dan memompanya secara paksa adalah tindakan yang benar-benar biadap.

Setelah kita mendengar tentang pratek pengawetan ikan dan hasil laut dengan formalin, pengawetan bakso dengan boraq, pengunaan zat warna tektil untuk makanan anak-anak, pencucian udang dengan pemutih, kita tidak terkejut mendengar tentang perbuatan sapi gelonggongan.

Kenapa praktek seperti ini ada di tengah-tengah kita. Kenapa kita seolah-olah menerimanya dan membenarkannya. Apakah sudah tidak ada cara mendapatkan keuntungan dengan cara yang terhormat. Apakah untuk tetap hidup harus dengan memanipulasi dagangan.

Kupang 21 Oktober 2008



Leave a reply